Rabu, 10 Februari 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN STUDI HADIS


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hadits  telah ada sejak awal perkembangan Islam adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat diragukan lagi. Sesunggunhya semasa hidup Rasulullah adalah wajar sekali jika kaum muslimin (para sahabat r.a.) memperhatikan apa saja yang dilakukan maupun yang diucapkan oleh beliau, terutamas sekali yang berkaitan dengan fatwa-fatwa keagamaan. Orang-orang Arab yang suka menghafal dan syair-syair dari para penyair mereka, ramalan-ramalan dari peramal mereka dan pernyataan-pernyataan dari para hakim, tidak mungkin lengah untuk mengisahkan kembali perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan dari seorang yang mereka akui sebagai seorang Rasul Allah.
Di samping sebagai utusan Allah, Nabi adalah panutan dan tokoh masyarakat. Selanjutnya dalam kapasitasnya sebagai apa saja (Rasul, pemimpin masyarakat, panglima perang, kepala rumah tanggal, teman) maka, tingkah laku, ucapan dan petunjuknya disebut sebagai ajaran Islam. Beliau sendiri sadar sepenuhnya bahwa agama yang dibawanya harus disampaikan dan terwujud secara kongkret dalam kehidupan nyata sehari-hari. Karena itu, setiap kali ada kesempatan Nabi memanfaatkannya berdialog dengan para sahabat dengan berbagai media, dan para sahabat juga memanfaatkan hak itu untuk lebih mendalami ajaran Islam.
Hadis Nabi yang sudah diterima oleh para sahabat, ada yang dihafal dan ada pula yang dicatat. Sahabat yang banyak mengahafal hadis dapat disebut misalnya Abu Hurairah, sedangkan sahabat Nabi yang membuat catatan hadis diantaranya ; Abu Bakar Shidiq, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Amr bin Ash, dan Abdullah bin Abbas.
Minat yang besar dari para sahabat Nabi untuk menerima dan menyampaikan hadis disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya : Pertama, Dinyatakan secara tegas oleh Allah dalam al-Qur’an, bahwa Nabi Muhammad adalah panutan utama (uswah hasanah) yang harus diikuti oleh orang-orang beriman dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka.
Kedua, Allah dan Rasul-Nya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang berpengetahuan. Ajaran ini telah mendorong para sahabat untuk berusaha memperoleh pengetahuan yang banyak, yang pada zaman Nabi, sumber pengetahuan adalah Nabi sendiri.
Ketiga, Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menyampaikan pengajaran kepada mereka yang tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi orang yang tidak hadir akan lebih paham daripada mereka yang hadir mendengarkan langsung dari Nabi. Perintah ini telah mendorong para sahabat untuk menyebarkan apa yang mereka peroleh dari Nabi.
A.      Rumusan Masalah
1.    Bagaimana Sejarah Perkembangan Dan Pertubuhan Hadits Pada Masa Rasulullah?
2.     Bagaimana perkembangan hadist pada masa Khulafaurrasyidin?
3.   Apa Pengertian Ulumul Hadits ?
4.    Apa Manfaat Mempelajari Ilmu Hadits?
B.      Tujuan
1.    Mengetahui Sejarah Perkembangan Dan Pertubuhan Hadits Pada Masa Rasulullah
2.    Mengetahui Sejarah Perkembangan Dan Pertubuhan Hadits Pada Masa Khulafaurrasyidin
3.    Mengetahui Dan Memahami Pengertian Ulumul Hadits
4.     Mengetahui Manfaat Mempelajari Ilmu Hadits
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Hadist Pada Masa Rosulullah saw
Masa ini dikenal dengan masa wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya, dimulai dari permulaan Nabi diangkat rasulullah hingga wafatnya pada tahun 11 H (mulai dari 13 tahun sebelum hijriah sampai 11 H) perkembangan hadits pada masa ini ditandai dengan cirri-ciri sebagai berikut :
  1. Para sahabat menerima dan memperoleh hadits dengan cara berhubungan langsung dengan Nabi untuk menanyakan berbagai masalah atau mengetahui perbuatan dan amlannya yang perlu dicontoh. Para sahabat tidak sederajat dalam mengetahui keadaan rasulullah saw karena berbeda tempat tinggalnya, kegiatan sehari-hari, (ada yang sering bepergian, ada yang sering beribadah dimasjid, dan lain-lain), sedang nabi pun tidak selalu secara rutin mengadakan ceramah terbuka untuk menyampaikan berita. Para sahabat yang banyak menerima pelajaran beliau adalah :
    1. Yang terdahulu masuk islam (As-sabiqunal awwalun) seperti khalifah empat, Abdullah bin mas’ud.
    2. Yang selalu berada disamping nabi dan bersungguh-sungguh menghafal hadits (seperti Abu hurairah), atau yang mencatat hadist (seperti Abdullah bin Amr bin Ash).
    3. Yang lama hidupnya sesudah nabi, karena dapat menerima hadist dari sesama sahabat, seperti Anas bin malik dan Abdullah bin Abbas.
    4. Yang erat hubungannya dengan nabi, yaitu ummul mu’minin, seperti siti aisyah dan ummu salamah.[1]
  2. Hadist atau sunnah nabi tidak ditulis seperti Al-Qur’an, karena ada larangan nabi saw, yang khawatir andaikan campur dengan Al-Qur’an, disamping umumnya para sahabat mengandalkan pada kekuatan hafalan, dan juga karena kekurangan tenaga penulis dikalangan mereka. Namun demkian ada juga sahabat yang menulisnya tidak secara resmi, melainkan atas inisiatif sendiri seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin amr bin ash dalam sebuah shahiffah yang diberi nama Ash – shadiqah. Setelah Al-Qur’an dibukukan ditulis dengan sempurna serta lengkap pula turunnya, barulah izin penulisan hadist pun dikeluarkan.[2]
B. Perkembangan Hadits Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Masa ini disebut masa periwayatan hadits secara terbatas (12-40 H). Para sahabat menyampaikan amanat sedikit demi sedikit menyampikan hadits kepada orang lain setelah nabi saw wafat. Hal tersebut dilakukan mereka dengan penuh kehati-hatian karena takut berbuat salah. Sabda nabi saw :
Ketahuilah ! Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang ghaib (tidak hadir) diantaramu. (diriwayatkan ibnu Abdil bari dari abu bakrah)
Sampaikanlah daripadaku walaupun hanya satu ayat (maksudnya satu hadist). Riwayat bukhari dari Abdullah bin Amr bin Ash.
Periwayatan yang dilakukan para sahabat yang pergi kekota-kota lain, dilakukan mereka dengan menyampaikan hadits kepada para sahabat lain dan tabi’in dengan sangat dibatasi dan sekedar keperluan, tidak bersifat pelajaran. Terutama pada masa Abu bakar dan Umar lebih sangat berhati-hati karena ingin menjaga jangan sampai terjadi pendustaan dalam mentabligkannya yang diancam dosa besar. Sabda nabi saw :
Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya disediakan di neraka. (riwayat jama’ah perawi hadist)
Para sahabat disamping terbatas dalam meriwayatkan hadist, juga sangat berhati-hati dalam menerima sesama sahabat dengan memperhatikan rawi/periwayat dan marwi (hadits yang diriwayatkan), tidak memperbanyak menerima hadits atau meriwayatkannya.
Baru pada masa khalifah Ustman dan Ali bin abi thalib dimulai pengembangan hadits dan periwayatannya, mereka meriwayatkan hadits dengan dua cara, yaitu:
a.       Dengan lafazd asli seperti diterima dari nabi
b.      Dengan maknanya, walupun lafzdnya lain, karena yang penting adalah menyampaikan maksud isinya.[3]
C. Pengertian/definisi ulumul hadits
Ulumul hadits yaitu ilmu yang membicarakan masalah hadits dari berbagai aspeknya.
Ilmu hadits muncul pada masa tabi’in. Az-zuhri dianggap sebagai peletak dasar ilmu hadits, kemudian selanjutnya muncul para mudawin hadits seperti Malik, Bukhari, dan sebagainya.
Ilmu ini dibagi dua yaitu:
1. Ilmu Hadis Riwayah
  • Ilmu Hadis Riwayah adalah ilmu hadis yang berupa periwayatan atau ilmu yang menukilkan segala yang disandarkan kepada Nabi.
  • Objek kajiannya adalah:
1.         Bagaimana cara menerima dan menyampaikan hadis
2.         Bagaimana cara memindahkan hadis
3.         Bagaimana cara mentadwinkan hadis.
  • Kegunaannya adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya.
2. Ilmu Hadis Dirayah
  • Ilmu Hadis Dirayah atau disebut dengan ilmu Mustalahul Hadis, yaitu ilmu yang mempelajari tentang keadaan hadis dari segi kesahihan, sandaran, maupun sifat-sifat rawinya.
  • Objek kajiannya adalah sanad, matan dan rawi.
  • Kegunaannya adalah:
1.      Untuk mengetahui pertumbuhan hadis
2.      Untuk mengetahui tokoh-tokoh hadis
3.      Untuk megetahui kaidah-kaidah yang digunakan
4.      Untuk mengetahui istilah dan criteria hadis.
  • Cagang ilmu Hadis Dirayah:
  1. Ilmu Rijalul Hadis
  2. Ilmu Jarh wa Ta’dil
  3. Ilmu Ilalil Hadis
  4. Ilmu Asbab al-Wurud
5.   Ilmu Mukhtaliful Hadis
BAB III
PENUTUP
1.      Hadis masa rasulullah
a.        Nabi menyampaikan hadis melalui media: majlis ‘ilmi, melalui sahabat tertentu, ceramah pada tempat terbuka (spt pada waktu haji wada’), perbuatan langsung, dan sebagainya.
b.       Sahabat yang banyak menerima hadis antara lain: (1) as-Sabiqunal awwalun yaitu: Abu Bakar, Usman, Ali, dan Abdullah Ibn Mas’ud (2) Ummahatul Mukminin atau istri-istri Rasul seperti ‘Aisyah dan Ummu Salamah (3) Sahabat dekat yang menulis hadis yaitu Abdullah Amr bin al’Ash (4) Sahabat yang selalu memanfaatkan waktu bersama Nabi seperti Abu Hurairah (5) Sahabat yang aktif dalam majlis ilmi dan bertanya kepada sahabat yang lain seperti Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abbas.
c.        Hadis lebih banyak dihafal karena Rasul melarang menulis hadis agar tidak bercampur dengan al-Qur’an.
2.      Hadis Masa Sahabat
a.        Disebut juga dengan masa pembatasan dan pengetatan riwayat karena perhatian difokuskan pada penyebaran al-Qur’an.
b.       Sahabat sangat hati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Setiap hadis yang diriwayatkan harus didatangkan seorang saksi.
c.         Terjadi perbedaan pendapat tentang pemaknaan larangan menulis hadis pada masa Rasul.
3.   Ulumul Hadis yaitu ilmu yang membicarakan masalah hadits dari  s serbagai aspeknya.

1 komentar:

  1. The History of the Casino - One of the Most Popular Casinos
    A casinosites.one relative newcomer to the herzamanindir.com/ world of online novcasino gambling, Wynn Las Vegas opened its doors to a new audience of 1등 사이트 over 600,000 in 2017. This was the 토토사이트 first casino

    BalasHapus